(Kitab Mukhtarul Hadits ke - 12)
بسْمِ اللهِ الَّرحْمَنِ الَّرحِيْمِ
نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَ التَّعْلِيْم، وَالتَّذَكُّرَ وَالتَّذْكِيْر، وَالنَّفْعَ وَاْلإنْتِفاَع، وَاْلإفَادَةْ وَاْلإسْتِفَادَة،
وَالْحَثَّ عَلىَ التَّمَسُّكِ بِكِتَا بِ الله وَ سُنَّةِ رَسُوْ لِهِ، وَالدُّ عَا ءِ اِلَى الهُدَ ى، وَالدَّ لآ لَةَ عَلَى الخَيْر،
إبْتِغَا ءَ وَجْهِ الله، وَ مَرْ ضَا تِهِ وَ قُرْ بِهِ وَ ثَوَ ا بِهِ مِيْنَا الله تَعَا لَى
“Bismillahirrahmanirrahim nawaitu ta’alluma wa at-ta’liima wa at-tadzakkuro wa at-tadzkiiro wa an-naf’a wa al-intifaa’a wa al-ifaadata wa al-istifaadah wa al-hatstsa ‘ala at-tamassuki bikitaabillahi wa sunnati Rosuulihi wa ad-du’ai ila al-hudaa wa ad-dalaalata ‘ala al-khoiri ibtigho’an waj-hillahi wa mardhatihi wa qurbihi wa thawabihi minallahi ta’ala”.
قل ر سو ل ا لله صلى الله عليه وآله و صحبه و سلم
جا لسوا الكبراء و ساألوا العلماء وخا لطوا الحكماء. (حد يث صحيح رواه الطبرانى)
“Qola Rasulallah shallallahu ‘alaihi waalihi washahbihi wasallam, Jalisul kubara-i wa saailul ‘ulama-i wa khalithul hukama-i (Hadisun Sahih Rawahut-Tabrani”.)
[“Duduklah/berkawanlah dengan orang-orang tua/besar dan bertanyalah pada ‘ulama dan bergaullah dengan hukama’(bijak pandai dan bercakap benar”.]
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memuliakan kita di kesempatan yang sangat mulia ini dengan kita dikumpulkan dengan para habaib para keturunan-keturunan Rasululllah wabil khusus Al Habib Abdulqodir yang datang dari jauh dari jakarta yang mana beliau datang sukarela di dalam majelis kita yang mulia ini yang betul-betul keperluan beliau menziarahi daripada mertua beliau dengan istri beliau datang tanpa saya telepon datang ke rumah saya dan sama-sama kita hadir di majelis ini.
Dan juga Al Habib Hamid Assegaff bersama Al Habib Hasan bin Ali Assegaff dan juga para ulama-ulama yang lain. Kemudian K.H Fuad beserta para ulama yang lain yang semuanya itu kita niat baik dalam hadir daripada majelis yang mulia ini yang mana tidak ada unsur politik, tidak ada unsur komersial didalam harta yang semuanya hanya syiar yang kita muliakan yang sama-sama kita semuanya mencintai sayyidina Muhammad saw.
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah swt meneruskan daripada pelajaran yang setiap malam selasa di masjid Al Mukaram kita laksanakan ini yang mana hadist tersebut yaitu hadist yang ke 12 yang pertama Rasulullah saw mengatakan :
“جا لسوا الكبراء” (Duduklah engkau dengan orang-orang yang mempunyai tingkat tinggi maqamnya kehadirat Allah swt).
Yang mana jikalau kita duduk dengan orang-orang besar sepeti itu, besar didalam ilmunya, besar didalam akhlaqnya, besar didalam kecintaannya terhadap Rasulullah maka anda pun akan tertular menjadi besar.
Jikalau kita duduk dengan orang-orang yang besar kemaksiatannya wal iyadzubillahi mindzalik maka tidak menutup kemungkinan kita akan tetular kemaksiatannya. Jikalau kita duduk dengan orang-orang yang sering membicarakan kejelekan orang maka anda mau tidak mau hari demi hari anda akan membicarakan kejelekan orang. Maka selalulah kita duduk dengan orang-orang yang besar ilmunya, orang-orang yang besar akhlaqnya yang mana tadi kita kita sudah kita lihat ketawadhuan beliau Al Habib Abdul Qodir dan juga K.H Fuad yang mana kita diperintahkan oleh Rasulullah untuk mendekat dengan orang-orang seperti gitu. Bahkan orang-orang terdahulu jikalau mempunyai problema, mempunyai kesulitan, mempuyai daripada kesulitan dunia dan akherat mereka larinya kepada orang-orang yang besar ilmunya sehingga mendapat nasehat yang baik. Tetapi jikalau kita mendapatkan kesulitan dari Allah swt, mendapatkan kesulitan dalam dunia yang kita duduk orang-orang yang jauh dari Allah naudzubillahi mindzalik ilmunya nggak ada, akhlaqnya buruk, tukang ngrumpi, doyan menjelekkan orang maka permasalahan yang anda punya justru tidak akan membuat terselesaikan dan akan semakin tersulitkan naudzubillahi mindzalik.
“جا لسوا الكبراء” kata Rasulullah saw ‘duduklah engaku dengan orang-orang yang besar (ilmunya, akhlaqnya)’.
Contohnya kita duduk didalam hal yang sangat mulia ini kita duduk bersama siapa? Yaitu orang besarnya manusia yaitu baginda nabi kita Muhammad saw, shallu’alannabi Muhammad..!
Dari awal kita duduk kita bershalawat dengan Rasulullah seolah-olah kita yakin pasti Rasulullah ada bersama kita, berarti kita disaat ini duduk bersama nabi kita Muhammad saw.
Jangan kita bangga duduk dengan orang-orang yang besar hartanya, orang-orang yang besar kemaksiatannya jangan kita bangga justru anda harus hindari majelis-majelis yang demikian.
Dikatakan oleh penyair arab ‘orang yang duduk dengan orang yang ahli ilmu pasti akan tertular ilmunya’. Begitupun sebaliknya jikalau anda duduk dengan orang yang ahli maksiat begitupun anda akan tertular kemaksiatannya, sekarang terserah anda kita mau duduk dengan siapa, dengan orang besar ilmunya atau dengan orang yang besar kemaksiatannya. Makanya Rasulullah saw mengatakan “جا لسوا الكبراء” (duduklah dengan orang-orang yang besar maqomnya ke hadirat Allah swt dengan orang yang mempunyai ketawadhuan didalam ilmunya, orang yang memiliki yang setiap harinya menangis ke hadirat Allah swt, duduk bersama mereka).
Tapi jikalau kita duduk dengan orang-orang yang suka bercanda apalagi bercandanya itu melewati batas bahkan kemaksiatan maka itu akan membuat hati kita semakin hitam dan semakin hitam dan hati kita akan tertutupi daripada hidayahnya Allah swt.
Bahkan didalam riwayat mengatakan :
‘orang yang banyak daripada bercandanya (yang sudah melewati batas) itu akan membuat hati semakin mati, nggak bisa menerima daripada nasehat’
Boleh kita melakukan yang namanya bercanda bahkan dianjurkan tetapi bercanda yang penuh hikmah. Orang-orang shalihin itu jikalau mereka bepergian di dalam mobilnya mereka itu bercanda tetapi bercandanya tidak ada unsur kemaksiatan, bercandanya mereka itu dengan hikmah-hikmah dan ilmu, bercandanya mereka itu dengan sunnah-sunnah baginda nabi kita Muhammad saw. Bahkan didalam doanya itu ada anjuran sebelum menutup dengan Al Fatiha itu ada anjuran ‘kemudian tersenyumlah seperti mengikuti sunnahnya Rasulullah saw’ jadi kita sebelum menutup itu tersenyum dia itu ada maknanya dan itu ada hikmahnya. Dan bahkan ketika kita bepergian dikatakan oleh rasulullah saw :
‘bepergian itu adalah sebagian daripada azab’
Capek kita biarpun naik mobil kita, jikalau kita sudah bepergian pasti merasakan sakit maka kita disunnahkan untuk bercanda tetapi itu semuanya tetap pada relnya baginda nabi kita Muhammad saw.
Kemudian kata Rasulullah saw :
“و ساألوا العلماء” (dan tanyalah dengan ulama). Dengan apa bertanya? Jikalau ada daripada masalah kita yang kita nggak tahu tanya ulama, dekat dengan ulama itu hidup akan menjadi enak. Naudzubillahi mindzalik jikalau anda deketnya dengan pemain bola, naudzubillahi mindzalik jikalau anda deketnya dengan artis-artis yang tidak shalat dan segala macem maka akan tersalurkan hati anda akan semakin berat untuk melaksanakan shalat. Tapi kalau dekat dengan ulama, melihat wajah daripada ulama itu dikatakan oleh Rasulullah saw :
‘memandang wajahnya ulama itu lebih afdhal daripada ibadah selama 80 tahun’
Ulama yang bagaimana? Karena sekarang ini banyak orang-orang yang sudah meng-atasnamakan ulama tetapi tidak sejalan dengan jalannya Rasulullah saw.
Ulama-ulama yang mengikuti jalannya Rasulullah, berpakaian seperti pakaiannya Rasulullah, selalu berucap dengan ucapan Rasulullah saw, selalu melaksanakan daripada sunnah-sunnah baginda nabi kita Muhammad saw dan yang lebih mulia lagi sanad keilmuannya sampai kepada baginda nabi kita Muhammad saw, shallau’alannabi Muhammad..!
Bahkan dikatakan oleh Rasulullah saw bukan hanya kita harus dengan kepada ulama, kita memuliakan ulama kata Rasululllah saw:
‘barang siapa seseorang yang memuliakan ulama (jikalau ulama datang ke rumah anda apapun yang anda punya berikan) seperti dia memuliakanku dan seperti dia menjamuku’
Bayangkan di rumah ini ada Rasulullah saw, karena kenapa? Karena ulama itu adalah pewarisnya nabi-nabi dan rasul-rasul mereka yang tahu daripada ilmunya baginda nabi kita Muhammad saw.
Jikalau kehidupan kita sudah jauh daripada ulama naudzubillahi mindzalik, shalat tidak mengerti, puasa tidak mengerti, dzikir tidak mengerti, daripada perbuatan-perbuatan yang shaleh tidak mengerti, bagaimana anda bisa dekat dengan Allah dan Rasul-Nya..?
Sesungguhnya para nabi dan para rasul tidak mewariskan kita duit, tidak mewariskan kita dollar, tidak Allah mewariskan ilmu. Kita tahunya ilmu dari siapa? Dari para ulama, orang-orang yang kenal daripada ilmu. Maka daripada itu ulama berbeda pendapat, disejajarkan mana lebih afdhal orang yang mengetahui ilmu dengan orang yang ahli kasyaf (orang yang tahu/bisa membaca hati orang) mana lebih afdhal? Maka orang mengatakan orang ahli ilmu orang yang berilmu lebih afdhal kedudukannya daripada orang yang bisa membaca orang (ada itu keramat/kelebihan itu).
Diriwayatkan dalam salah satu cerita bahwasanya ada di zaman Ibin Mukri salah satu tabiin, Ibin Mukri ini adalah orang yang sangat shaleh hingga keshalihannya dia itu bisa membaca orang kasyaf sudah bisa membaca orang dan segala macem.
Disuatu saat bahwasanya sapi-nya beliau itu dicuri dan tidak ada yang namanya saksi bahwasanya fulan bin fulan mencuri. Ibin Mukri melapor pada hakim:
‘wahai hakim sapi ku dicuri’
Katanya hakim (hakim ini pendiri syariat,orang yang mengerti ilmu ulama besar dia) :
‘wahai Ibin Mukri saya hormati engkau karena engkau adalah orang shaleh, engkau orang ahli kasyaf bisa membaca orang segala macem. Tetapi menurut syariat Allah, menurut syariat baginda nabi kita Muhammad saw tidak bisa di-hukum-kan kecuali ada saksi. Engkau ada saksi? Tidak ada’
‘saya bisa membaca hati itu orang’ kata Ibin Mukri
‘tidak bisa, karena harus di-hukum-kan dengan ilmunya’ kata hakim
‘ya sudah saya akan suruh sapi saya ini untuk bicara hingga bisa memberikan kesaksian bahwasanya fulan bin fulan yang mencuri sapi saya’ kata Ibin Mukri
Akhirnya sapinya ditunjuk :
‘wahai sapi bicara’
Bicara sapinya dengan bahasa manusia
‘bahwasanya yang mencuri fulan bin fulan’
Katanya hakimnya tersebut (hakimnya bukan orang yang gampang disuap, bukan orang-orang yang tergila-gila dengan duit dan harta, lain halnya dengan hakim-hakim sekarang. Mudah-mudahan Allah swt merubah dan memberikan hidayah. Kalau hakim-hakim sekarang mudah disogok dan segala macem tapi beliau ini tidak) :
‘biarpun itu sapi bisa bicara dengan bahasa manusia aja dengan bahasa apapun dia bisa bicara tidak akan saya terima kesaksiannya harus ada saksi didalam memutuskan suatu hukum’
Akhirnya Ibin Mukri sedikit kesal:
‘wahai hakim saya akan berdoa kepada Allah swt sehingga bumi ini akan menelanmu’
Hakim tersebut hakim yang shaleh hakim yang takut kehadirat Allah swt, orang-orang yang takut kehadirat Allah wt. Hakim tersebut terkenal bahwasanya setiap malamnya 700 rakaat kehadirat Allah swt, matanya selalu menangis kehadirat Allah swt, bukan hakim-hakim yang gampang disuap dengan harta dan uang segala macem. Hakim yang betul-betul tulus, hakim yang betul-betul takut kehadirat Allah swt.
‘biar saya dimakan dengan tanah, dengan bumi pun saya akan terima’
Ibin Mukri doa dengan Allah swt :
‘ya Rabb makan ini hakim dengan bumi-Mu wahai Allah’
Akhirnya hakim tadi ter-makan dengan bumi-Nya Allah, akhirnya masuk ke bumi-Nya Allah swt masuk sampai kepalanya.
‘ayo Mukri masih kurang, ayo pendam lagi’
‘masih nggak tobat, nggak mau memberikan keputusan bahwasanya fulan bin fulan yang mencuri daripada sapiku?’
‘tidak, saya akan berpegang teguh dengan syariat Allah swt, saya akan berpegang teguh dengan syariat baginda nabi kita Muhammad saw’
Akhirnya ini hakim sudah nggak kuat bertawasul dengan sayyidina Muhammad saw, shallu’alannabi Muhammad..!, menjadikan nabi muhammad saw menjadi perantaranya. Sambil menjerit ini hakim dan berdoa kehadirat Allah swt :
‘ya Rasulallah ini syariatmu, saya tidak mengemis kecuali kepadamu ya Rasulallah’
Sehingga dikeluarkan dari bumi-Nya Allah swt, berkat siapa? Berkat sayyidina Muhammad saw, berkat berpegang teguh dengan syariat nabi Muhammad saw.
Begitupun jikalau kita apapun problema kita tanya dengan guru-guru kita, tanya dengan ulama yang kita yakini betul-betul, ulama yang senantiasa menangis kehadirat Allah swt, ulama yang tidak tergila-gila dengan dunia, ulama yang takut memfatwakan (yang tidak asal memfatwakan), ulama yang tidak condong dengan politik, ulama yang tidak condong dengan harta, ulama yang betul-betul syiar kepada nabi Muhammad saw dekati dia maka hidupmu akan bahagia dunia akherat. Tetapi jikalau naudzubillahi mindzalik kita jauh dari ulama yang kita dekati orang-orang yang gemar bermaksiat kepada Allah swt maka kita akan terjerumus kepada kemaksiatan.
Yang terakhir katanya Rasulullah saw :
“وخا لطوا الحكماء” (dan dekatilah dan jauhilah orang-orang yang mempunyai hikmah yang begitu luas didalam perkataannya dan perbuatannya).
Jadi orang mencurahkan hikmah itu tidak harus berceramah, dengan perlakuannya, dekati. Karena kenapa? Akhlaqnya. Karena kenapa? Ilmunya dekati selalu dia, tidak mesti tausiyah dia. Makanya ulama-ulama terdahulu itu dengan ketawadhuannya, dengan rendah hatinya itu tadi membuat kepada kita pelajaran yang baik dengan akhlaqnya dan ketawadhuannya, kelihatan dari postur tubuhnya.
Kalau ada orang yang kebanyakan bicara naudzubillahi mindzalik maka nggak ada hikmahnya. Tapi kalau orang yang mempunyai hikmah yang begitu luas kelihatan, dari duduknya sudah kelihatan dilihat oh seperti nabi Muhammad saw, cara duduknya bersama baginda nabi Muhammad saw, daripada cara melihatnya seperti baginda nabi kita Muhammad saw, senyumnya seperti nabi Muhammad saw, kemuliaan, dekati selalu mereka dan jangan sekali-kali anda jauh dari mereka insyaallah akan membuat kemuliaan kepada majelis kita hingga kita pun dimuliakan oleh Allah swt.
Inilah yang bisa saya sampaikan di kesempatan yang sangat mulia ini, mudah-mudahan kita semuanya dimuliakan oleh Allah swt. Marilah kita berdzikir di kesempatan yang sangat mulia ini kita dekatkan diri kita dengan Allah swt, kita bersihkan diri kita dari segala penyakit-penyakit yang buruk, dari penyakit-penyakit sombong, penyakit-penyakit riya’, penyakit-penyakit hasut hilangkan semuanya. Jikalau dalam diri kita ada luka sedikit mungkin kita sudah bingung pergi ke dokter, pergi ke bidan, pergi kemanapun mungkin untuk mengobati daripada lukanya, tapi hati kita selalu busuk mana kita mau mengobati.
Marilah kita di kesempatan yang sangat mulai ini kita berdzikir kepada Allah swt..
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله


